Penyebab dan Cara Membuat Anak Percaya Diri dan Berani

Keberhasilan orang tua dalam mendidik akan sangat bergantung pada kecakapan dan pola asuh yang dimilikinya.

Pembahasan tentang proses dan cara membuat anak percaya diri dan berani disusun untuk memberikan informasi tentang apa dan bagaimana cara orang tua dalam menumbuhkan rasa percaya diri anak.

Penyebab dan Cara Membuat Anak Percaya Diri dan Berani


Percaya diri adalah salah satu faktor penting dalam hidup anak. Tidak hanya berpengaruh pada pencapaian prestasi, sikap percaya diri juga berperan besar terhadap kemampuan anak melihat dirinya
sendiri.

“Menumbuhkan motivasi dan sikap percaya diri pada anak dapat dibantu dengan memberikan pujian yang spesifik.”

Apa Arti Percaya Diri

Apa Arti Percaya Diri?


Percaya diri adalah yakin bahwa dirinya dapat atau mampu melakukan sesuatu,

Dasar dari menumbuhkan sikap percaya diri adalah anak perlu merasa aman dan nyaman atas dirinya.


Apa Manfaat Percaya Diri bagi Anak

Apa Manfaat Percaya Diri bagi Anak?


1. Dapat Bersosialisasi atau Menjalin Pertemanan
Anak senang bertemu dengan teman baru, Bagi mereka, teman dapat memberikan pengalaman berbeda.

2. Dapat Melihat Diri Secara Positif
Anak dapat menilai kelebihan dan 2 kekurangan yang ada pada dirinya.

3. Siap Menghadapi Tantangan
Anak mampu memaksimalkan kemampuan dirinya untuk menghadapi tantangan,

Misalnya, anak ikut pemilihan menjadi calon ketua kelas karena kemampuannya berani mengeluarkan pendapat dengan baik.


Bagaimana Ciri-Ciri Anak yang Percaya Diri

Bagaimana Ciri-Ciri Anak yang Percaya Diri?


1. Fokus pada Kelebihannya dan Berusaha Mengatasi Kekurangannya
Keinginannya untuk sukses tinggi, sehingga anak berusaha untuk mencari tahu bagaimana cara mengatasi masalahnya

2. Berani Mengambil Risiko
Anak suka akan tantangan dan berani mencoba hal baru.

3. Berani Mengakui Ketika Belum Paham
Anak sangat percaya pada kemampuan dirinya, Karena itu mengakui bahwa ia belum paham, tidak mengganggu harga dirinya.

4. Terus Belajar dan Pantang Menyerah
Anak percaya pada proses belajar, termasuk ketika mengalami kegagalan


Apa yang Menyebabkan Anak Menjadi Tidak Percaya Diri

Apa yang Menyebabkan Anak Menjadi Tidak Percaya Diri?


1. Memberi Julukan Negatif pada Anak
Misalnya, ketika anak sering tersandung atau suka menjatuhkan barang, orang tua memberi julukan “si anak ceroboh”.

2. Selalu Berprasangka Negatif pada Anak
Misalnya, ketika anak akan mencoba kegiatan baru, orang tua langsung meragukan kemampuannya. “Masa sih kamu bisa?”.

3. Banyak Melarang Anak
Melarang anak untuk melakukan kegiatan karena terlalu khawatir.

4. Bereaksi Berlebihan Ketika Anak Salah
Reaksi marah atau panik yang membuat anak jadi takut mencoba lagi.

5. Memaksa Anak Melakukan Sesuatu di Luar Kemampuannya
Misalnya anak usia 5 tahun dipaksa untuk dapat duduk dan belajar selama 2 jam.

6. Tidak Memberikan Anak Peranan dan Tanggung Jawab di Rumah
Anak selalu dibantu untuk melakukan pekerjaan rumah karena orang tua tidak yakin akan kemampuannya

7. Hubungan Orang Tua dan Anak yang Kurang Menyenangkan
Misalnya jarang ngobrol dan bermain bersama anak


Bagaimana Peran Orang Tua untuk Membantu Anak Percaya Diri

Bagaimana Peran Orang Tua untuk Membantu Anak Percaya Diri?


1. Menumbuhkan Motivasi

Motivasi sebagai usaha yang dilakukan anak untuk memenuhi kebutuhan, keinginan, dan kemauannya.

Anak lahir dengan motivasi dari dalam dirinya. Orang tua berperan untuk mengembangkan motivasi dalam diri anak bukan memupuk motivasi dari luar dirinya

Motivasi untuk melakukan sesuatu yang didorong dari luar diri anak (misalnya karena hadiah atau sogokan), tidak membentuk kemampuan dan perilaku anak yang baik


Motivasi dalam diri anak adalah perilaku yang didorong dari dalam diri anak itu sendiri.

Contoh:

Kakak tidur tepat waktu malam ini, karena tidak mau bangun terlambat besok pagi.

Sedangkan . . ,

Motivasi dari luar diri anak adalah perilaku yang didorong karena adanya hadiah/kepuasan dari luar dirinya.

Contoh:
Kakak mau tidur tepat waktu malam ini karena ibu menjanjikan memberi es krim besok.


2. Bijak Memuji Anak

a. Fokus kepada kepuasan dari dalam diri sendiri

"Kamu sudah mengecek ulang semua jawabannya? Kalau jawabannya benar, pasti hasilnya akan lebih baik dari kemarin."


b. Dilakukan secara spontan

"Kelihatan PR-mu banyak, tapi kamu tekun sekali mengerjakannya."


c. Memuji usahanya, bukan hasilnya

"Ibu senang melihat kamu terus mencoba mengerjakan PR sendiri, padahal susah ya nak?”


d. Memuji dengan tulus, tidak ada pesan tersembunyi

“Wah kakak menepati janji, selesai mengerjakan PR tanpa ibu ingatkan” BUKAN “Tumben, mengerjakan PR! Ada maunya ya?”


e. Memberikan pujian yang spesifik
"Tulisanmu rapi sekali!”


3. Kritik Anak dengan Cara yang Baik

a. Sampaikan spesifik kesalahannya, bukan pribadi anak

"Mainanmu berantakan" BUKAN "Males banget sih kamu."


b. Dengarkan dan terima perasaan anak

”Habis main, cape ya masih harus merapikan mainan lagi?"


c. Gunakan kata "seandainya ..."

Gunakan kata "seandainya ..." untuk menunjukkan efek positif di masa mendatang.

"Seandainya kamu merapikan mainanmu setiap habis main, gampang mencarinya ketika ingin dipakai lagi."


d. Bantu anak memahami

Kesalahan harus diakui, bukan dihindari tetapi diperbaiki.

"Mama dan Tante dulu juga sering berantem ketika mainan hilang. Akhirnya, kita hias kotak mainannya. Karena kotaknya bagus, kita jadi senang merapikan mainannya setelah main.“


4. Mendukung Kemampuan Anak

Memberikan kesempatan pada anak untuk banyak mencoba kegiatan baru sesuai dengan minatnya.

Menyediakan fasilitas agar anak dapat menyalurkan kemampuannya. Misalnya, karena anak suka melukis, ibu membelikan alat lukis.


5. Memberikan Pilihan dan Waktu

Memberikan pilihan artinya memberikan kesempatan pada anak untuk mencoba mengatasi masalahnya sendiri. Misalnya, “saya kerjakan tugas dulu atau pergi dengan teman ya?”.

Memberikan waktu artinya orang tua menghargai dan membuka kesempatan pada anak untuk melakukan proses belajar.


6. Menjalin Hubungan yang Menyenangkan

Hubungan yang baik antara orang tua dan anak akan menumbuhkan rasa aman, nyaman, dan menyenangkan, sehingga rasa percaya diri anak tumbuh.

Kegiatan bermain dan bercanda yang dilakukan bersama secara rutin dapat mempererat hubungan.


Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu. -Ki Hajar Dewantara

Vandi ID Blogger Indonesia yang tampan dari Dunia Pendidikan

Belum ada Komentar untuk "Penyebab dan Cara Membuat Anak Percaya Diri dan Berani"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel