Pengertian Disiplin Positif Pada Anak & Cara Menerapkanya
2/25/2019
Tulis Komentar
Mendidik anak dan mempersiapkannya untuk mandiri adalah tujuan pengasuhan semua orang tua. Tidak hanya mandiri secara fisik dan materi, tetapi juga mampu mandiri dalam berpikir dan menentukan hal yang baik dan benar dalam perjalanan hidupnya.
Orang tua perlu memberikan dukungan yang tepat agar anak mandiri. Salah satunya ialah dengan menerapkan pola disiplin yang memberikan dampak jangka panjang.
Artikel ini dapat membantu Orang tua untuk mengembangkan disiplin positif pada anak sejak usia dini.
Disiplin positif adalah menumbuhkan disiplin yang didorong dalam diri anak tanpa hukuman dan hadiah.
1. Kenali Kekhasan Anak
Disiplin untuk anak usia balita berbeda dengan anak yang usianya lebih besar.
Anak terlahir dengan sifatnya masing-masing. Misalnya, ada yang mudah berkenalan dengan orang baru dan ada yang lambat mengenal orang lain.
2. Pahami Kebutuhan Anak
Setiap anak memiliki kebutuhan dasar (makan, minum, tidur, main) yang perlu dipenuhi.
Misalnya: Anak yang sedang kelelahan, mengantuk, dan lapar akan sulit mengikuti aturan dan mematuhi kesepakatan.
1. Pengalaman Masa Lalu Orang Tua
Pengalaman saat menjadi anak akan memengaruhi cara menerapkan disiplin pada anak saat ini.
Banyak pengalaman yang dapat diterapkan pada anak kita, tetapi ada juga pengalaman yang tidak perlu diulang.
2. Emosi Orang Tua
Saat menerapkan disiplin, ada berbagai emosi yang dirasakan oleh orang tua.
Hal tersebut sangat wajar dialami, tetapi perlu dikendalikan dengan baik.
Tiga Hal Penting yang Perlu DILAKUKAN
Tiga Hal Penting yang Perlu DIHINDARI
1. Menerapkan Konsekuensi yang Berhubungan dengan Kesalahan
Misalnya:
Meminta kakak berusaha memperbaiki mainan adik yang dirusaknya, bukan mengurungnya di sebuah ruangan.
2. Menerapkan Disiplin yang Masuk Akal Sesuai dengan Usia Anak
Misalnya:
Air yang ditumpahkan adik, dibersihkan sendiri sesuai dengan kemampuannya.
3. Tidak Melakukan Kekerasan, baik Fisik maupun Melukai Perasaan Anak
Misalnya:
1. Hindari Memberikan Iming-Iming agar Anak Mau Berperilaku Baik
Misalnya:
Menjelaskan pada anak bahwa mandi akan membuat dirinya nyaman, bukan karena akan mendapatkan hadiah setelah mandi.
2. Mendampingi Anak Tidak Hanya pada Saat Sukses, Tetapi Juga Pada Saat Sulit
Misalnya:
Saat anak kalah dalam perlombaan, jangan disalahkan, tetapi berilah semangat.
Hindari
MENGGURUI
Contoh: “Makanya jangan malas, lain kali tasnya diperiksa supaya tidak ada barang yang tertinggal”
MENCECAR
Contoh: “Kenapa baru pulang? Ke mana saja? Main terus ya? Sama siapa?”
MEMERINTAH
Contoh: “Kerjakan PR sekarang!”
Anjuran
MENCERITAKAN PENGALAMAN
Contoh: “Ibu dulu juga pernah ketinggalan membawa buku PR, terus dimarahi guru. Akhirnya, Ibu sering memeriksa tas sebelum berangkat.”
MENYATAKAN SITUASI
Contoh: “Wah, pulangnya terlambat, kelihatannya capek ya”
MEMBERIKAN PILIHAN
Contoh: “Mau kerjakan PR sekarang atau 30 menit lagi?”
1. Pahami Kondisi Anak
Katakan: “Ibu tahu kamu lelah, tapi PR harus diselesaikan”
Jangan Katakan: “Gitu aja kok lelah”
2. Berikan Kritik yang Baik
Katakan: “Mainanmu berantakan, ayo rapikan.”
Jangan Katakan: “Kamu memang pemalas”
3. Berikan Pujian yang Tulus dan Spontan Pada Perilaku Baik
Katakan: “ Terima kasih sudah membantu Ibu, mencuci piring kotor”
Jangan Katakan: “Tumben mau membantu Ibu”
Keluarga memerlukan aturan dan batasan yang jelas tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan untuk kepentingan bersama.
Kesepakatan bersama yang dipraktikkan akan mendorong anak melakukan kegiatan sehari-hari dengan baik dan teratur, sehingga menjadi modal penting dalam menumbuhkan disiplin positif.
1. Buat aturan dan kesepakatan bersama yang berlaku untuk semua anggota keluarga.
2. Aturan dibuat singkat, mudah dimengerti, dan diingat oleh semua anggota keluarga.
3. Aturan dibuat tertulis dan ditempelkan pada dinding yang dapat dilihat oleh semua anggota keluarga.
4. Setelah beberapa waktu, lihat bersama apakah ada kesepakatan yang perlu diganti atau diperbaiki.
5. Laksanakan kesepakatan secara terus-menerus dan terapkan aturan yang tepat saat ada pelanggaran.
Orang tua perlu memberikan dukungan yang tepat agar anak mandiri. Salah satunya ialah dengan menerapkan pola disiplin yang memberikan dampak jangka panjang.
Artikel ini dapat membantu Orang tua untuk mengembangkan disiplin positif pada anak sejak usia dini.
Tetap tenang saat menghadapi situasi sulit adalah salah satu kunci keberhasilan dalam penerapan disiplin positif
Apa Arti dan Manfaat Disiplin Positif?
Disiplin positif adalah menumbuhkan disiplin yang didorong dalam diri anak tanpa hukuman dan hadiah.
Apa Manfaat Disiplin Positif?
- Dapat menumbuhkan kepercayaan diri anak
- Dapat mendukung kemandirian anak dan rasa bertanggung jawab atas dirinya
- Dapat mendukung lingkungan yang lebih baik dalam keluarga
Kita mengajarkan disiplin untuk kebaikannya bukan agar anak-anak menjadi loyo, pasif, atau penurut
Apa yang Perlu Diketahui Sebelum Menerapkan Disiplin Positif?
1. Kenali Kekhasan Anak
Disiplin untuk anak usia balita berbeda dengan anak yang usianya lebih besar.
Anak terlahir dengan sifatnya masing-masing. Misalnya, ada yang mudah berkenalan dengan orang baru dan ada yang lambat mengenal orang lain.
2. Pahami Kebutuhan Anak
Setiap anak memiliki kebutuhan dasar (makan, minum, tidur, main) yang perlu dipenuhi.
Misalnya: Anak yang sedang kelelahan, mengantuk, dan lapar akan sulit mengikuti aturan dan mematuhi kesepakatan.
Anak yang terpenuhi kebutuhan dasarnya dapat menjalani rutinitas keseharian dengan baik
Apa Saja Tantangan dan Hambatan Orang Tua Saat Menerapkan Disiplin Positif?
1. Pengalaman Masa Lalu Orang Tua
Pengalaman saat menjadi anak akan memengaruhi cara menerapkan disiplin pada anak saat ini.
Banyak pengalaman yang dapat diterapkan pada anak kita, tetapi ada juga pengalaman yang tidak perlu diulang.
2. Emosi Orang Tua
Saat menerapkan disiplin, ada berbagai emosi yang dirasakan oleh orang tua.
Hal tersebut sangat wajar dialami, tetapi perlu dikendalikan dengan baik.
Disiplin diri anak dimulai dari hubungan yang kuat dan rasa percaya yang dalam
Apa Saja yang Perlu Dipahami Dalam Penerapan Disiplin Positif?
Tiga Hal Penting yang Perlu DILAKUKAN
- Menunjukkan sikap tegas dan konsisten sekaligus menunjukkan kasih sayang
- Memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar dari kesalahan
- Melakukan komunikasi yang baik dan menghargai anak
Tiga Hal Penting yang Perlu DIHINDARI
- Menunjukkan sikap keras sehingga anak merasa takut dan rendah diri atau menunjukkan sikap lembut sehingga anak menjadi manja
- Memberikan hukuman kepada anak ketika melakukan kesalahan
- Menciptakan hubungan yang tidak menyenangkan dalam keluarga, misalnya memarahi atau menyindir
Anak tumbuh disiplin bukan karena kepatuhan atau ketakutan, melainkan karena kesadaran dan kepedulian
Bagaimana Mengatasi Anak Saat Melakukan Kesalahan?
1. Menerapkan Konsekuensi yang Berhubungan dengan Kesalahan
Misalnya:
Meminta kakak berusaha memperbaiki mainan adik yang dirusaknya, bukan mengurungnya di sebuah ruangan.
2. Menerapkan Disiplin yang Masuk Akal Sesuai dengan Usia Anak
Misalnya:
Air yang ditumpahkan adik, dibersihkan sendiri sesuai dengan kemampuannya.
3. Tidak Melakukan Kekerasan, baik Fisik maupun Melukai Perasaan Anak
Misalnya:
- Tidak menjewer anak
- Tidak mempermalukan anak dengan menceritakan kesalahannya
Bagaimana Cara Menumbuhkan Disiplin Diri Anak?
1. Hindari Memberikan Iming-Iming agar Anak Mau Berperilaku Baik
Misalnya:
Menjelaskan pada anak bahwa mandi akan membuat dirinya nyaman, bukan karena akan mendapatkan hadiah setelah mandi.
2. Mendampingi Anak Tidak Hanya pada Saat Sukses, Tetapi Juga Pada Saat Sulit
Misalnya:
Saat anak kalah dalam perlombaan, jangan disalahkan, tetapi berilah semangat.
Dalam disiplin positif, pujian yang tepat menjadi alat disiplin yang baik karena memberikan pengalaman belajar
Bagaimana Cara Berkomunikasi Dalam Disiplin Positif?
Hindari
MENGGURUI
Contoh: “Makanya jangan malas, lain kali tasnya diperiksa supaya tidak ada barang yang tertinggal”
MENCECAR
Contoh: “Kenapa baru pulang? Ke mana saja? Main terus ya? Sama siapa?”
MEMERINTAH
Contoh: “Kerjakan PR sekarang!”
Anjuran
MENCERITAKAN PENGALAMAN
Contoh: “Ibu dulu juga pernah ketinggalan membawa buku PR, terus dimarahi guru. Akhirnya, Ibu sering memeriksa tas sebelum berangkat.”
MENYATAKAN SITUASI
Contoh: “Wah, pulangnya terlambat, kelihatannya capek ya”
MEMBERIKAN PILIHAN
Contoh: “Mau kerjakan PR sekarang atau 30 menit lagi?”
Disiplin positif fokus pada arahan bukan pada koreksi
Bagaimana Cara Memberikan Pujian dan Kritik yang Baik?
1. Pahami Kondisi Anak
Katakan: “Ibu tahu kamu lelah, tapi PR harus diselesaikan”
Jangan Katakan: “Gitu aja kok lelah”
2. Berikan Kritik yang Baik
Katakan: “Mainanmu berantakan, ayo rapikan.”
Jangan Katakan: “Kamu memang pemalas”
3. Berikan Pujian yang Tulus dan Spontan Pada Perilaku Baik
Katakan: “ Terima kasih sudah membantu Ibu, mencuci piring kotor”
Jangan Katakan: “Tumben mau membantu Ibu”
Bagaimana Membuat Kesepakatan Bersama?
Keluarga memerlukan aturan dan batasan yang jelas tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan untuk kepentingan bersama.
Kesepakatan bersama yang dipraktikkan akan mendorong anak melakukan kegiatan sehari-hari dengan baik dan teratur, sehingga menjadi modal penting dalam menumbuhkan disiplin positif.
1. Buat aturan dan kesepakatan bersama yang berlaku untuk semua anggota keluarga.
2. Aturan dibuat singkat, mudah dimengerti, dan diingat oleh semua anggota keluarga.
- Berpamitan ketika keluar dari rumah
- Mendengarkan orang lain ketika berbicara
3. Aturan dibuat tertulis dan ditempelkan pada dinding yang dapat dilihat oleh semua anggota keluarga.
- Berpamitan ketika keluar dari rumah
- Mendengarkan orang lain ketika berbicara
- Nonton TV satu jam setelah PR selesai
4. Setelah beberapa waktu, lihat bersama apakah ada kesepakatan yang perlu diganti atau diperbaiki.
5. Laksanakan kesepakatan secara terus-menerus dan terapkan aturan yang tepat saat ada pelanggaran.
Belum ada Komentar untuk "Pengertian Disiplin Positif Pada Anak & Cara Menerapkanya"
Posting Komentar